Showing posts with label a dropping blood. Show all posts
Showing posts with label a dropping blood. Show all posts

Tuesday, 26 June 2012

The Present

Sejujurnya saya agak benci dengan orang yang mengatakan 'saya hilang' lalu pura-pura bertanya sekarang saya dimana. Ada kemungkinan mereka sebenarnya benar-benar peduli, tapi yang saya lihat mereka tidak pernah bertanya apa yang saya lakukan, paling bertanya sekadar basa-basi, lalu begitu saya jawab dengan basa-basi juga, mereka pun langsung tarik kesimpulan. Ya sudah, untuk apa saya cerita ke orang-orang yang tidak peduli. Biarkan mereka dengan vonis mereka 'saya yang sudah tidak niat dan malas-malasan' dan biarkan saya dengan vonis saya ' mereka tidak peduli'.

Yah tidak ada alasan yang gawat juga sih kenapa saya 'hilang', tapi alasan psikologis bisa jadi pembenaran. Hahahahahahaha

Saya suka hidup saya yang sekarang. Banyak hal yang bisa saya lihat, banyak hal yang bisa saya pertimbangkan, dan banyak juga yang bisa saya dapat (senyum lebar untuk poin yang terakhir ini), dan saya masih belum puas, bahkan masih jauh dari puas.

Saya berubah?! Ya, memang. Selama saya masih bernafas, saya akan terus berubah. Jadi ingat kemarin saya bertemu teman lama di jalan. Biasanya saya yang membuat orang tercengang, tapi kali ini saya pun ikut tercengang. Yang membuat saya kaget, kenapa dia sama sekali tak berubah?! Perubahan itu mengagetkan, tapi tidak berubah itu lebih mengagetkan. Tentunya kita selalu berharap-harap seperti apa kenalan yang sudah lama tak ditemui itu. Kaget bukan, kalau mendapatinya sama persis dengan yang dulu.

Jangan pernah mengharapkan saya yang sama. Hari ini saya suka apel, suatu hari saya bisa suka anggur, jeruk, durian, atau mungkin saja buah maja.

Oh yaa...tenang saja, saya produktif, bahkan lebih produktif dari yang orang-orang bisa duga.

I keep changing, I keep learning
but I will burn my past

picture by: light-from-Emirates



Friday, 31 December 2010

Stain

Entah kenapa, ada ketertarikan berlebih saat kawanan saya dan, tentunya, saya sendiri, berkumpul membentuk lingkaran. Rasa sebal menggebu-gebu terlontar dari setiap bibir insan yang hidup di situ. Tak terkecuali saya. Kita membicarakan dia di saat ribuan kata harus tertulis di kertas-kertas tugas.

Peduli! Ya, kita peduli.

Namun, rasa tertarik berlebih tadi membuat kecurigaan muncul di benak saya. Jika di hati ini memiliki dua tangan, maka tangan itu akan bertepuk riang setiap kali ada kata terlontar yang menurunkan bahkan semakin menjebloskan si dia. Saya curiga pada diri saya dan sedikit menyangsikan kata peduli itu ada.

Terasa seperti noda, mau menghapusnya juga sulit karena lingkaran kawanan itu memancarkan daya tarik begitu kuatnya. Perasaan saya berkata mulut ini semakin kotor karena kesenangannya begitu membuncah tak terkendali.

Sepertinya saya harus berusaha tenang dan mencarikan solusi. Dan semoga noda itu tidak kembali menetes.

Tuesday, 5 October 2010

Procrastinator's Murmuring


Seperti siput yang berjalan di batu, saya pun bergerak sangat lambat. Bahkan, memulai pun terasa berat. Kelapangan waktu itu melenakan saya, membuat mata saya cukup sering (selalu) berpaling kepada hal-hal lain.

Saya tersadar bahwa optimis dan meremehkan itu hal yang berbeda. Mungkin yang saya lakukan kemarin adalah hal yang kedua.

Waktu semakin mepet, saya masih tenggelam dalam kebodohan yang luar biasa. Orang biasa mungkin akan tersadar oleh mepetnya waktu itu. Tapi, tidak dengan saya. Jadi, saya ambil kesimpulan bahwa saya orang yang luar biasa. Entah luar biasa bodoh atau apa?

Saat waktu terus berjalan, habislah masa saya. Parahnya, pekerjaan yang menanti tak kunjung berkurang. Saya pun bungkam terhadap sekeliling. Tak ingin rasanya diingatkan akan pekerjaan itu dan saya masih dalam status hal yang kedua tadi, menganggap semuanya pasti akan baik-baik saja.

Tiba waktunya, saya tak mampu menyelesaikannya. Stres berat melanda. Seperti apa stresnya? Saya tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Yang jelas badan saya menggigil dibuatnya. Selama berjam-jam selama berhari-hari saya terkurung dan terpaku di depan layar laptop.

Tadinya kalau pekerjaan ini beres, saya mau sombong dengan mengatakan "I am a good procrastinator" tapi, yah, meskipun pada akhirnya beres juga (dengan penundaan berkali-kali), saya malah mengatakan "I'll never ever do procrastinate again. NEVER..!"

Catatan kaki: Saya sangat terpukul saat mencari gambar dengan keyword 'procrastinator'. Yang keluar gambar siput. Yaaaahhhh, mungkin begitulah saya.

Saturday, 22 May 2010

Explode


Makalah,
Film,
Makalah lagi,
Tugas beratus-ratus nomor,
Terjemahan,
dan makalah lagi.

Kalau kata teman saya, ibarat makanan yang dijejalkan terus-menerus ke mulut. Rasanya mau muntah menghadapi kata-kata di atas itu.

Lalu, saya kabur mencari ketenangan. Tapi ternyata, di tempat yang saya kira saya bisa tenang sungguh jauh di luar ketenangan. Mulut-mulut yang tidak pernah beres selalu mengiringi saya. Yang ini lah, itu lah. Padahal semuanya itu tidak beres. Abnormal bagi saya. Belum lagi muka tak peduli yang selalu menampakkan diri di depan saya. Kalau saya bisa memakunya agar bisa selalu melihat keadaan, pasti sudah saya lakukan dari dulu. Tapi karena tak bisa, kekesalan justru semakin bertumpuk. Saya pun menyerah pada ketidaktenangan.

Baru saya sadar, yang namanya tempat tenang itu TAK ADA.

Saturday, 9 January 2010

Di Waktu yang Mepet Ini


Di waktu yang mepet ini aku cuma ingin berbagi.
Di waktu yang mepet ini aku cuma ingin bercerita.

Ketika ku bangun hari ini,
aku rasa satu dosa telah bertambah.
Bukan..
Dua dosa,
tiga,
atau empat.

Di waktu yang mepet ini aku cuma ingin mengeluh.

Bodoh!
Tak ada yang aku lakukan lagi.

Di waktu yang mepet ini aku cuma ingin menyesali.

Kesia-siaan.

Sunday, 3 January 2010

Hidup yang Sulit Dimengerti


Aku benar-benar baru tersadar kalau segala nilai yang ada di hidup ini sungguh saling berbenturan. Batasan baik dan buruk benar-benar buram. Apa hanya membunuh, merampok, dan berbohong yang bisa dikatakan jahat? Lalu, bagaimana dengan kegiatan lain yang menurutku sebenarnya merugikan tapi tak ada hukum yang mengatakan salah. Sebaliknya, pada kenyataannya, ada saja suatu kejadian yang membuat kita harus mengatakan kalau berbohong itu baik, bahkan membunuh itu baik.

Benar-benar tak bisa dimengerti.

Aku punya sebuah cerita. Tentang seorang gadis yang bingung menjalani hidup.
Di satu sisi ia sangat ingin mengejar kebahagiaan di akhirat. Pandangan matanya selalu terarah ke birunya langit seolah-olah ia benar-benar bisa melihat surga yang tersembunyi di balik tirai biru itu. Namun, di sisi lain, ia masih sering mengais-ngais tanah. Ia masih ingin mencari harta karun nan gemerlap yang ada di balik rendah dan kotornya tanah. Lalu, saat ia mendongak ke atas kembali memandang langit, wajahnya ternoda tanah yang coklat. Ia memang tak pernah masuk ke dalam kegelapan bawah tanah, tapi ia menjadi sangat terhina untuk memandang ke atas. Lalu, kemana ia harus tinggal? Ia tak mungkin bisa berada di atas karena kehinaannya, sementara ia tak mau menetap di bawah karena selalu merindukan langit.

Sekarang ini, orang yang jelas-jelas berada di dalam tanah ataupun langit sama-sama mendapatkan pujian. Orang yang berada di atas akan dibalas segala pengorbanannya di bumi. Mungkin tinggal nanti yang di dalam tanah mendapat kesusahan saat malaikat Israfil meniupkan sangkakalanya. Tapi, tetap dia memperoleh kebahagiaan yang luar biasa. Orang-orang bisa sangat memujanya di dunia.

Kalau begitu satu sama.

Tapi, bagaimana dengan gadis itu?
Aku tak yakin ia akan dapat kebahagiaan setelah meninggalkan kehidupan dunia. Mirisnya, ia juga pasti tak dapat kebahagian di saat mengais-ngais tanah karena ia tak pernah mendapatkan harta karunnya. Ia hanya melihat gemerlapnya saja dan silau akannya sebelum akhirnya suatu waktu kembali mengingat surga di atas langit.

Hidup itu sulit bukan?!
Bagaimana bisa orang-orang terhina yang terpuruk di bawah tanah mendapatkan apresiasi yang luar biasa besarnya? Sementara seorang gadis yang hanya tercoreng mukanya oleh tanah menjadi sosok yang begitu merugi? Keberadaannya adalah kesia-siaan.

Bisa saja gadis itu mencari air untuk menghapus tanah di wajahnya. Dengan begitu, ia bisa memandang langit tanpa malu akan noda duniawi di wajahnya.

Ah, ya. Benar seperti itu. Masalah beres. Ia bisa bahagia nantinya.

Tapi,
gadis itu kembali mengais tanah lagi.
Ia masih rindu melihat gemerlap harta di bawah tanah.