Friday, 6 August 2010

Maaf, tapi...

Hari itu, pikiran saya masih tak mampu menggapai kejadian yang itu. Semuanya terjadi begitu saja. Tertumpah dalam air mata, kekecewaan, dan makian. Bahkan dalam wujud lemparan yang saya sesali selanjutnya.

Keras kepala masih mendominasi hingga kini. Namun, saya masih ingat persis berkat keras kepala ini saya bisa 'hidup' sampai sekarang. Lalu kembali ke kejadian di hari itu, entah harus saya apakan telinga yang sudah terlanjur mendengarnya. Mulut pun seakan terbungkam hingga lontaran yang tadinya dengan lantang saya ucapkan jadi tersumbat. Spidol melayang dari tangan saya lalu yang selanjutnya bantal pun ikut terbang ke arahnya. Saya akhirnya pergi meninggalkan arena diiringi bantingan pintu keras-keras.

Benar, benar yang sudah orang itu katakan, bila kondisinya seperi itu. Tapi, saya ingin memilih jalan lain, jalan yang tentunya lebih baik. Kalau saya menganggap orang itu penuh kegagalan, saya mau memperbaikinya untuk masa depan saya. Berkaca dari pengalamannya, saya tak ingin melakukan hal yang sama, terjebak di situasi yang sama. Tapi apa ucapan ini terlalu perih? Keras kepala saya bilang tak apa mengungkapkan sebuah kebenaran walau itu perih. Keras kepala saya bilang tak apa agar orang itu tahu apa yang ada di pikiran saya selama ini.

Dia mengungkapkan hal-hal yang membuat saya berperan menjadi tokoh antagonis. Saya-lah yang telah menyakitinya. Saya-lah yang tak tahu terimakasih. Detik bahkan jam berlalu, tak ada satu kesimpulan pun yang dapat ditarik. Yang terakhir cuma menyisakan kesan 'saya marah' dan 'dia kecewa'.

Maaf,
saya tidak bisa dan tidak ingin menjadi seperti yang dia idam-idamkan. Tapi saya bukan anak durhaka.

Wednesday, 14 July 2010

Kisah dari Palmerah


Dulu....

Sang ibu penuh kasih sayang. Sang ayah selalu penuh canda meskipun terkadang emosi tak bisa ditahannya. Dua anak kecil yang sering dibilang kembar, padahal kakak beradik, biasa bersepeda di luar atau sekadar bermain taplak. Sang kakak selalu berada di sebelah adiknya yang selalu dihiasi cengiran manis di wajahnya, bercanda tawa bersama. Sang nenek selalu memasak makanan enak dan yang pasti penuh gizi. Sang bibi yang hangat punya hobi mengajak dua anak kecil tadi jalan-jalan. Sang paman, meskipun cuek, tak pernah keberatan dua anak kecil itu bermain dengannya.



Sekarang....

Sang ibu disibukkan di toko dengan uang yang kadang seret kadang lancar. Sang ayah mengalihkan perhatiannya ke seperangkat elektronik yang dijajakannya. Sang nenek tetap memasak makanan bergizi namun keluhan selalu keluar dari mulutnya. Sang bibi pergi dari rumah, tinggal di tempat berbeda dan bergelimang gemerlap duniawi. Sang paman masih di situ, bersama anggota keluarga barunya, membangun keluarga yang menganut prinsip materi dengan tingkat kecuekan yang semakin tinggi. Sang adik yang dahulu di wajahnya dihiasi cengiran kini menjadi seringai super judes nan acuh, pikirannya pun terjun semakin dalam bersama 'si cowok' dan teman-temannya.

Sang kakak........................bingung sendiri di sini.

Wednesday, 7 July 2010

Kemarin di Bus Jepang Itu


Baru kemarin kejadiannya. Di bus Jepang itu, saya tengah duduk dengan earphone terpasang di balik kerudung. Mata tertuju pada sosok di samping saya. Saya sadar sepanjang perjalanan mata saya tak lepas darinya.

Dia-lah seorang kenek wanita. Mungkin pekerjaan membuat sosoknya pun terlihat kuat nan kekar. Dengan suaranya yang lantang, ia meneriakkan 'Grogol, Grogol!' Ia pun naik-turun dan bergelantungan di pintu bus itu layaknya kenek pada umumnya.

Mungkin sebagian besar mengaitkan peristiwa itu dengan emansipasi, kebebasan, atau yang sejenisnya. Kalau saya melihatnya, saya tak peduli dengan teori emansipasi itu.
Tapi, kemarin, yang ada, di pikiran saya terus terngiang, 'Zaman edan yang membuat seorang wanita harus bekerja seperti itu'.

Pikiran saya ini yang mungkin sering dikatakan 'close minded' atau bahkan pikiran dari zaman purba. Tapi, toh, saya tak mau melepas pemikiran ini. Coba bayangkan ketika wanita masih diperlakukan mulia, selalu dilindungi kehormatannya. Mungkin tak akan pernah ada kejadian wanita berdiri di bus dari Cileunyi sampai Jakarta. Pastinya pemuda-pemuda memuliakan wanita dengan mempersilakannya duduk.

Seandainya zaman masih mulia, kenek wanita itu tentu akan berjuang di rumahnya untuk membesarkan anak yang kelak di masa depan akan berguna baginya juga agama. Tak perlu berhadapan dengan kerasnya kehidupan jalan, mengeluarkan tenaga yang ekstra untuk uang yang tak seberapa. Jadi terlintas, bagaimana nasib suami dan anak kenek wanita itu jika si ibu seharian sibuk berjuang di jalan? Atau, ia belum menikah? Lalu, bagaimana masa depannya? Apakah harus diisi dengan kesepian di hari tua?

Bukannya jadi egois, ya, kalau kita malah membiarkannya dengan kedok emansipasi? Kalau saya, sih, lebih memilih 'ubah zaman edan' ini dan kita sama-sama hidup mulia. Terserah kalau masih ada yang bilang saya orang purba.

Monday, 14 June 2010

A Girl Who Will Become A Woman

This is the last day before I'm going to be twenty. I looked at myself and asked, "What have you done?". Then, I sighed and answered, "Ng-playing games, browsing, watching anime, reading manga, daydreaming, etc.". I laughed myself. I've done nothing.

Meanwhile, I've seen many people has been success since young. It's so contrast with me. I've never been serious for what I am doing.

Time is ticking. Whether I'm ready or not, change is the one that I must face. I know that I must move to another level. It's an effort for being a good human. A good human shouldn't waste time but using time wisely.

Thank God that I have lived till now. Please let me be a good human that always have You in the rest of my life. Please guide me to do the change.

From



A little girl

To



A woman

Saturday, 22 May 2010

Explode


Makalah,
Film,
Makalah lagi,
Tugas beratus-ratus nomor,
Terjemahan,
dan makalah lagi.

Kalau kata teman saya, ibarat makanan yang dijejalkan terus-menerus ke mulut. Rasanya mau muntah menghadapi kata-kata di atas itu.

Lalu, saya kabur mencari ketenangan. Tapi ternyata, di tempat yang saya kira saya bisa tenang sungguh jauh di luar ketenangan. Mulut-mulut yang tidak pernah beres selalu mengiringi saya. Yang ini lah, itu lah. Padahal semuanya itu tidak beres. Abnormal bagi saya. Belum lagi muka tak peduli yang selalu menampakkan diri di depan saya. Kalau saya bisa memakunya agar bisa selalu melihat keadaan, pasti sudah saya lakukan dari dulu. Tapi karena tak bisa, kekesalan justru semakin bertumpuk. Saya pun menyerah pada ketidaktenangan.

Baru saya sadar, yang namanya tempat tenang itu TAK ADA.