Saturday, 22 May 2010

Explode


Makalah,
Film,
Makalah lagi,
Tugas beratus-ratus nomor,
Terjemahan,
dan makalah lagi.

Kalau kata teman saya, ibarat makanan yang dijejalkan terus-menerus ke mulut. Rasanya mau muntah menghadapi kata-kata di atas itu.

Lalu, saya kabur mencari ketenangan. Tapi ternyata, di tempat yang saya kira saya bisa tenang sungguh jauh di luar ketenangan. Mulut-mulut yang tidak pernah beres selalu mengiringi saya. Yang ini lah, itu lah. Padahal semuanya itu tidak beres. Abnormal bagi saya. Belum lagi muka tak peduli yang selalu menampakkan diri di depan saya. Kalau saya bisa memakunya agar bisa selalu melihat keadaan, pasti sudah saya lakukan dari dulu. Tapi karena tak bisa, kekesalan justru semakin bertumpuk. Saya pun menyerah pada ketidaktenangan.

Baru saya sadar, yang namanya tempat tenang itu TAK ADA.

Friday, 23 April 2010

Namanya??


Berikut ini adalah percakapan yang terjadi di sela-sela jam mata kuliah tidak favorit saya. Ceritanya teman saya yang senantiasa menjual gorengan di kelas sedang melayani si teman saya yang senantiasa membeli gorengan. Menu gorengan hari itu adalah risol dan pisang goreng.

Si teman saya yang mau membeli gorengan berkata, "Mau risolnya, dong."

Si teman saya yang menjual gorengan memberikan risolnya.
Tapi, kemudian ia berkata, "Kalau yang saya jual ini, namanya karoket, bukan risol."

Di benak saya terlintas wajah nenek saya yang sering membuat yang mirip seperti itu. Lalu, di dalam hati saya berkata, "Itu mah lumpia kering."

Orang Sunda menyebutnya karoket. Orang Jakarta tidak mengenal karoket, tahunya risol. Saya yang di darah saya mengalir darah orang Cina-Semarang mengenali bentuknya yang mirip lumpia.

Jadi, pertanyaannya, apa nama makanan itu?

P.S.
Ternyata kata om Google, namanya lumpia.

Thursday, 15 April 2010

Close-minded


I don't know why, but the 'close-minded' still annoys my ears till now. It has been two days since 'close-minded' came to my ear clearly. However, I can't release the effect of that phrase. Arrggghhh! Annoying!

Truthfully, I was a little bit hurt when she said that to me.

"What?! Close-minded?!", said me but just in my mind.

"Please, open your mind. Don't be too strict," she said.

Then, I told her that I am not a close-minded person. I just want to see any problem based on my ideology. Whatever I said, she ignored my reason. She even told me and warned me to be careful with my dangerous and strict mind. If God didn't give me patience, my anger would burst without realizing what I was doing there before.

Did she think that life was just on earth? Come on, she was the one who must open her mind.

Since that day, I've known that it's not easy, even so hard. What I am doing now isn't simple as I thought before. There are many people out there who still consider me as a close-minded person. I wonder how to fix this problem. One absolute answer is never giving up, right?

Wednesday, 31 March 2010

Dead End


Tadi pagi di kala saya sedang malas-malasnya bangun dari lelapnya tidur, pikiran itu kembali mengganggu di pikiran saya. Hal yang pertama kali saya lakukan pagi ini adalah membuka laptop saya, dan melanjutkan pekerjaan saya yang itu. Ya, yang itu. Si penganggu tidur saya itu pun berhasil menyita perhatian saya pagi ini.

Si pekerjaan itu terpampang di layar laptop saya. Saya hanya memandanginya selama sekian detik. Lalu, saya taruh jari-jari saya di keyboard. Siap untuk mengetik. Tapi...

Berdetik-detik saya diam sampai akhirnya saya berkata, "Nggak tahu mau nulis apa?". Seandainya kejadian tadi pagi dikomikkan, mungkin akan ada efek-efek orang yang hanya terlihat kakinya dengan tulisan besar-besar 'GUBRAK!'

Buntu. Ditambah dengan suasana kamar berantakan saya yang tak mendukung. Akhir-akhir ini kertas-kertas mengganggu penglihatan dan ruang gerak saya. Tapi tetap tak kunjung saya rapikan.

Dengan pikiran buntu, saya paksakan mengetik apapun yang saat itu terlintas di benak saya. Waktu yang mepet terus menekan sampai akhirnya selesailah pekerjaan saya yang itu.

Tapi itu selesai, si penganggu di pikiran saya belum hilang. Bagaimana ini? Bagaimana itu? Bagaimana ini itu? Diterima takut, ditolak sebal. Seperti itulah kiranya suara-suara yang terus berbunyi di alam bawah sadar tapi sadar saya. Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa apapun hasilnya pasti itu yang terbaik untuk saya. Kesimpulan klise dan tetap saja hati saya tak tenang. Suara-suara itu masih terus berbunyi.

Wednesday, 24 March 2010

Why?


Trapped in this miserable and confusing world, a big question mark appears in my mind. A question word always annoys my sight. It's "why?". Why do people say something meanwhile someone say the opposites? Why do people care about a small thing meanwhile the big problem are ignored? Why do people feel their life are alright meanwhile scare spreads out on other side of the same world?

For the sake of human, for the sake of woman, for the sake of labor, for the sake of children, etc, etc. Each man solves their problem with their own thinking. Clear? Not really. It just add some new problems.

Why don't they say for the sake of universe? The solution actually has written since long time ago. But most people deny it. They deny perfect solution?!

Why oh why?