Friday, 31 December 2010

Stain

Entah kenapa, ada ketertarikan berlebih saat kawanan saya dan, tentunya, saya sendiri, berkumpul membentuk lingkaran. Rasa sebal menggebu-gebu terlontar dari setiap bibir insan yang hidup di situ. Tak terkecuali saya. Kita membicarakan dia di saat ribuan kata harus tertulis di kertas-kertas tugas.

Peduli! Ya, kita peduli.

Namun, rasa tertarik berlebih tadi membuat kecurigaan muncul di benak saya. Jika di hati ini memiliki dua tangan, maka tangan itu akan bertepuk riang setiap kali ada kata terlontar yang menurunkan bahkan semakin menjebloskan si dia. Saya curiga pada diri saya dan sedikit menyangsikan kata peduli itu ada.

Terasa seperti noda, mau menghapusnya juga sulit karena lingkaran kawanan itu memancarkan daya tarik begitu kuatnya. Perasaan saya berkata mulut ini semakin kotor karena kesenangannya begitu membuncah tak terkendali.

Sepertinya saya harus berusaha tenang dan mencarikan solusi. Dan semoga noda itu tidak kembali menetes.

Monday, 27 December 2010

A Protest


Beberapa hari yang lalu, film menarik muncul di layar televisi. Dengan judul Ghost Rider dan Nicholas Cage sebagai pemeran utamanya, saya pun memilih tidur lebih malam dan menahan kantuk demi film ini. Telat memang, karena film ini sudah booming dari awal kemunculannya di layar lebar tahun 2007 lalu. Tapi, toh, akhirnya saya nonton juga dan yang penting, gratis.

Mata saya pun tertarik menatap alur ceritanya selama lebih dari dua jam. Di tengah menjelang akhir cerita, sebuah adegan menuai protes dari benak saya. Di awal film, ada karakter laki-laki yang matian-matian mengkhawatirkan si tokoh utama, Johnny Blaze, yang selalu nekat mempertaruhkan nyawa demi mempertontonkan pertunjukan motor lompat yang fantastis. Tapi di adegan yang ingin saya protes itu, karakter baik hati ini dipergunakan oleh malaikat murtad untuk menjebak wanita pujaan Johnny Blaze yang merupakan kelemahan dari sang Ghost Rider ini-hari berikutnya ada film Spiderman yang juga isi ceritanya ada penyanderaan Mary Jane yang merupakan kelemahan Peter Spiderman Parker.

Karakter itu pada akhirnya tewas dibekukan malaikat murtad, atau sebut saja iblis, setelah tubuhnya dirasuki. Johnny Blaze datang menemukan tubuh temannya itu sudah tak bernyawa. Kemudian, matanya menyusuri ruangan dan menemukan gadis pujaannya sekarat, namun belum meninggal. Ia pun beranjak mendekati wanita itu, meninggalkan tubuh tak bernyawa temannya.

"Hey, temanmu mati!" protes saya.

Tapi Johnny Blaze tak peduli. Produser pun tak peduli. Itulah akhir dari karakter ini. Mati, bahkan belum sempat saya hafal namanya, dan tak lagi disebut-sebut sampai akhir film. Karakter yang termarjinalkan. Padahal di awal jasanya terlihat besar tapi akhir hidupnya dikemas begitu sederhana.

Thursday, 16 December 2010

The Phenomenon of Ulzzang

Recenty, I found an interesting topic in the internet. It was about ulzzang. Actually, it began with my hobby to search the internet all about Korean things. Then, I found this ulzzang.

Literally, ulzzang means best face. This term refers to boys or girls who have pretty face and upload their own picture to the internet. Many Korean actress and actor became famous because of this. Why I consider ulzzang is an interesting thing is not because I like their face. In the beginning, well, I admit that I liked their face and wanted to have the same face as them. However, then, I found a surprising fact of this ulzzang. They all have heavy make-up that makes them really different with their natural face. In this essay, I limit the thing which will be discussed on ulzzang girl. Until I write this essay, I haven’t found the ulzzang boy also makes up as heavy as the girl.

The ulzzang girls usually come from Asia. They have oriental face with small eyes, small nose, and yellow skin. In Indonesia, this complexion is categorizes as light complexion. This also becomes the favourite because it’s still called white but not too pale like European’s. The lacks of this face are in the eyes and nose. The makeup of ulzzang has the capability to diminish this lack and even nullify it. The main point of this kind of makeup is to give the effect of bigger eyes so they will look like anime girls. Ulzzang girls usually put the contact lens. This lens has bigger diameter than normal eyes. It’s about 14 to 18 millimeters. The next step of this makeup is put the make up around the eyes. They usually use eye liner and eye shadow with the dark colour. Besides that, they put the fake eyelashes. Not only that, an ulzzang also put heavy foundation and face powder. The shading is needed to change their small nose into the sharper one. The makeup has finished. Besides makeup, the ulzzang girls have particular hairstyle. They have straight hair and bangs. The last step that they must do is taking a picture. Usually, they take a picture with higher angle. Camera is above their face. Their eyes are toward the camera. It, again, will point out their bigger-anime look like-eyes. Another characteristic of ulzzang photograph is the lips are very thin and cute. The girls thin their lips and sometimes purse their lips in a cute way.
As I said before, I was fond of this kind of face. I thought they, the ulzzang girls, have the natural beauty and cuteness. I used to see the heavy make up in horrible way such as a heavy and colourful eye shadow, very long fake eyelashes, and a very dark eye liner. It’s why I didn’t realize that the ulzzang girls also have the heavy makeup even heavier than the one which I considered as heavy.
The next thing that happened was I thought they cheated because I felt cheated. They manipulate their face to be called pretty. They wear mask which is actually form by the society. In other words, the society decides the meaning of the beauty. The girls follow this decision and do everything to make the society accept them as pretty girl. However, not every people assume this kind of makeup is good. Based on my searching on the internet, many people show their displeasure of ulzzang. They think the ulzzang girls cheated by wearing mask which is heavy makeup. Not only women, but men also argue like that. I found many comments that questions who said the thin lips and anime look like eyes are pretty. Some men think that they prefer a natural face than an ulzzang face.

Nevertheless, I can’t deny that ulzzang become famous because it has many fans. Ulzzang has become the trend among the Asian teenagers. Starting with the anime fever, the comic artists draw their characters which represent Asian people with big eyes, very thin lips, sharp nose, and long legs. Actually, they are different with the physical fact of Asian people. But then, makeup offers the solution. Since that, many people are vying to become anime. In addition, the Korean wave helps ulzzang becomes trend. Although, there are many issues that state Koreans do plastic surgery to become beautiful, they have particular characteristic of face that is considered as pretty nowadays. They have big and round eyes. Their skin is milky white. People use this to make advantages. They pick the pretty human being, train them, and release them to the public to become society’s idols. Every Asian girl’s eyes look at them and then, the desire to be like them is appeared.

The side which accepts many advantages is the one who see this issue as chance to earn money. The actresses and singers are under the management. They use their beauty to earn money. The company owners use these girls as their advertisement’s model. The sales will rise. Not only that, the instrument of ulzzang such as the big contact lens, eyeliner, and other makeup will be salable. The conclusion is the concept of beauty, nowadays, has become a tool to earning money. The one who is trapped in this concept, actually, has become the victim of trend and money maker for the owners of capital.

Wednesday, 24 November 2010

"Cause I'm Goo Yong Ha"


Awalnya, saya nekat membeli DVD dengan judul Sungkyunkwan Scandal itu karena termakan strategi sang produser dengan mengikutsertakan si terkenal Yoochun sebagai pemeran utama dalam drama seri itu. Tapi setelah beberapa episode berlalu, saya justru terkesan dengan kehadiran karakter lain, si Yeorim Goo Yong Ha.

Awalnya, saya benar-benar 'ngeblank' cerita apa yang disajikan. Diperparah subtitle bahasa Indonesianya yang membuat saya makin 'ngeblank'. Akhirnya saya menemukan ide 'brilian'. Saya ganti dengan subtitle bahasa Inggris dan "TAARRRAAA!", akhirnya saya mengerti juga.

Latar waktunya dari zaman dulu Korea, Dinasti Joseon, tepatnya saat Raja Yeongjo berkuasa. Tempatnya berkisar di Universitas Sungkyunkwan, tempat aliran konfusianisme dipelajari bagi para mahasiswa calon pejabat ini. Ceritanya tak sesederhana yang saya kira. Banyak fakta sejarah di dalamnya, tentang persaingan di dunia politik masa itu, tepatnya perseteruan antara dua partai, Noron dan Soron, yang sebenarnya sama-sama pecahan dari Partai Seoin.

Dari dulu, yang namanya kekuasaan selalu jadi incaran manusia. Raja tak bisa percaya dengan para menterinya, takut kekuasaannya sewaktu-waktu digulingkan. Para menteri juga tak bisa saling mempercayai, sama-sama saling mengincar kekuasaan. Hierarki sosial yang tak berpihak pada rakyat terbentuk. Saat itu, partai Noron yang mendominasi kancah politik mendapat keuntungan-keuntungan dalam hidup, termasuk di lingkungan Sungkyunkwan. Hanya golongan bangsawan yang dapat mengenyam pendidikan di universitas ini. Kemudahan mendapat pendidikan juga diberikan bagi mereka yang punya uang, pilihannya dapat menyuap pengawas, atau membeli bocoran jawaban, atau menyewa pengganti. Rakyat biasa sulit, apalagi perempuan. Perempuan yang bisa mengembangkan bakatnya hanyalah gisaeng atau wanita penghibur. Bakat itupun bertujuan untuk menambah daya tarik gisaeng dalam 'melayani' para bangsawan ataupun kelas atas.

Nah, apa yang mau dibicarakan di drama ini adalah harmonisasi politik yang dianggap mustahil dengan menampilkan tiga karakter utama yang berbeda latar belakang, Lee Sun Joon dari Noron, Moon Jae Shin dari Soron, dan Kim Yoon Hee alias Kim Yoon Shik dari rakyat biasa yang juga seorang wanita. Selain itu, ada upaya pembentukan Joseon baru yang merupakan proyek dari Raja terdahulu dan ingin dilanjutkan Raja yang sekarang. Dengan kata lain, upaya terhadap pencapaian harapan yang sulit, karena Noron dengan sigap sekaligus diam-diam menentang upaya itu. Tapi yang namanya drama Korea, tetap, yang menonjol adalah tema percintaannya, antara Lee Sun Joon, Kim Yoon Hee, dan Moon Jae Shin.

Lupakan ketiga karakter di atas, yang ingin saya bicarakan di sini adalah karakter ke empat yang juga utama karena gambarnya menghiasi sampul depan. Namanya Goo Yong Ha. Ciri-cirinya: selalu memakai baju dengan warna mencolok dan membawa kipas, selalu terlihat ceria, selalu berada di kejauhan dan mengamati suatu peristiwa, dan yang terakhir, selalu berada di saat tepat nan darurat untuk menyelesaikan permasalahan. Pemberesan masalah yang cantik dan saat ditanya "Kenapa? Kok bisa?", ia menjawab "Cause I'm Goo Yong Ha". Saat dipercaya untuk menyelesaikan permasalahan, lagi-lagi alasannya membawa namanya, "Because you're Goo Yong Ha".

Meski begitu, ia bukanlah sosok yang dengan ajaib mampu menyelesaikan segala permasalahan. Kekhawatiran, kepanikan, dan strategi juga dihadapinya. Namun saat waktunya tiba, ia menghidupkan namanya dengan pengamatannya yang cerdik dan berpikir keras. Masalah yang dihadapinya pun teratasi diiringi dengan senyumannya seraya berkata "Cause I'm Goo Yong Ha"

Sunday, 7 November 2010

"Tujuh"


Suatu hari di sebuah bus Jatinangor-DU, sang pengamen sedang asyik mendendangkan lagunya. Saya mengintip sejenak ke dalam bus lalu naik dan segera mencari tempat nyaman yang kosong. Sayang hanya tempat kosong yang tersisa. Dengan ketidaknyamanan karena harus melipat kaki, saya pun duduk. Di depan saya, sebuah keluarga sedang bercanda ria.

Begitu sang sopir bus masuk dan duduk di belakang kemudi, sang pengamen pun sadar diri. Ia berhenti bernyanyi, berpamitan dengan para penumpang, dan mengeluarkan bungkus permen yang sudah lusuh.

Anak kecil di depan saya pun bereaksi.

Anak Kecil: "Ma, duit, Ma!" (seraya menunjuk sang pengamen)
Ibu : (Memberikan sekeping lima ratus rupiah)"Ini berapa?"
Anak Kecil: "Tujuh"

Tawa pun saya tahan menjadi senyuman.